MEWUJUDKAN PENYELENGGARAAN DIKLAT YANG EFEKTIF

MEWUJUDKAN PENYELENGGARAAN DIKLAT YANG EFEKTIF

Oleh: Drs. H. Nafiuddin, M.Si.,M.Pd*)

ABSTRAK

      Lembaga  Pendidikan dan Latihan dianggap mampu memanaj  dan mengelola penyelenggaraan diklat secara professional serta menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia aparatur negara yang mampu memberikan pelayanan prima dalam semua aspek manajemen, dan mampu melakukan peningkatan kompetensi SDM aparatur sesuai     dengan kebutuhan actual. Balai Diklat Keagamaan memiliki Urgensi Tugas dalam penyelenggaraan kediklatan yang bertujuan:1).Untuk mewujudkan kepemerintahan yang baik diperlukan sumber daya manusia aparatur yang memiliki kompetensi jabatan dalam penyelenggaraan negara dan pembangunan. 2). Untuk menciptakan sumber daya    manusia aparatur yang memiliki kompetensi tersebut diperlukan peningkatan mutu profesionalisme, sikap pengabdian dan kesetiaan, semangat persatuan dan kesatuan, serta pengembangan wawasan PNS melalui pendidikan dan pelatihan. Dalam upaya   mewujudkan kondisi tersebut diatas, Balai Diklat Keagamaan perlu menciptakan suasana diklat yang efektiv dan produktif. Efektivitas Penyelenggaraan Diklat adalah: Penyelenggaraan proses belajar- mengajar dalam rangka meningkatkan kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Kementerian Agama yang   dilaksanakan  berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dengan perangkat yang tepat dan     waktu yang tepat pula sehingga mampu menciptakan proses diklat yang kondusif atau maksimal untuk memperoleh hasil/produk diklat yang optimal. Berdasarkan pengamatan, identifikasi dan analisis masalah, dapatlah dikatakan bahwa penyelenggaraan diklat di BDK Semarang belum berjalan efektif  sebagaimana yang daharapkan, sehubungan dengan jumlah widyaiswara secara kuantitatif maupun kualitatifnya belum memadai. Kondisi tersebut menimbulkan penyelenggaraan diklat sering terganggu kelancaran dan mutu yang dihasilkan. Sebagai upaya dalam mengatasi kondisi tersebut Balai Diklat Keagamaan Semarang dirasa perlu menyelenggarakan DDTK tentang  Metode, Strategi/ Pendekatan, Sumber- sumber Pembelajaran (Model-model Pembelajaran) dan Teknik- teknik Evaluasi Hasil Belajar, Melakukan DDTK Multi media dan penguasaan pengoperasionalan IT, serta menyelenggarakan seminar temu ilmiah secara berkala.

Kata Kunci: Diklat, Efektif

A. PENDAHULUAN

            Lembaga Pendidikan dan Latihan bagi ASN diharapkan dapat menjadi tempat pertukaran gagasan kreatif dan inovatif dengan mutu program yang kompetitif. Lembaga Pendidikan dan Latihan juga diharapkan menjadi tempat dimana komitmen peningkatan mutu tampak jelas dalam kegiatan diseminasi dan pengembangan gagasan serta praktik mutakhir manajemen kinerja organisasi public dengan inovasi sebagai norma yang menjiwai setiap kegiatan. Dengan demikian, Lembaga Pendidikan dan Latihan akan memiliki identitas yang membedakannya dari lembaga serupa dengan:  sejumlah fasilitator diklat yang memadai secara kuantitas maupun kualitas,  penyelenggara diklat yang berkepribadian unggul, kompeten dan professional,   memiliki program diklat yang atraktif, manajemen program diklat yang efektif dan efisien, publikasi bermutu, memiliki perpustakaan dengan koleksi yang memadai dan dikelola dengan teknologi mutakhir, serta pelayanan penunjang yang prima.

      Dengan demikian Lembaga Pendidikan dan Latihan dianggap mampu memanaj dan mengelola penyelenggaraan diklat secara professional serta menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia aparatur negara yang mampu memberikan pelayanan prima dalam semua  aspek manajemen, dan mampu melakukan peningkatan kompetensi SDM aparatur sesuai dengan kebutuhan aktual.

B. Tugas Pokok dan Fungsi

      Bahwa Tugas Pokok Kementerian Agama berdasarkan PMA No. 3 Tahun 2006 menegaskan, Kementerian Agama mempunyai Tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan dibidang keagamaan. Sedangkan Fungsi Kementerian Agama meliputi: Perumusan kebijakan di bidang keagamaan, Pelaksanaan urusan pemerintah di bidang keagamaan, Pengelolaan barang milik Negara,dan  Pengawasan pembinaan kehidupan keagamaan. Visi yang dicanangkan  Kementerian Agama adalah:  Terwujudnya masyarakat Indonesia yang taat beragama, maju, sejahtera, dan cerdas serta saling menghormati antar sesama pemeluk agama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan Misi yang diemban meliputi: 1). Meningkatkan kualitas bimbingan, pemahaman, pengamalan, dan pelayanan kehidupan beragama, 2). Meningkatkan penghayatan moral dan etika keagamaan, 3). Meningkatkan kualitas pendidikan umat beragama, 4). Meningkatkan kualitas penyelenggaraan Haji. 5). Memberdayakan umat beragama dan lembaga keagamaan 6). Memperkokoh kerukunan umat beragama, dan 7). Mengembangkan keselarasan pemahaman keagamaan dengan wawasan kebangsaan Indonesia.

      Berorientasi pada perihal tersebut diatas, maka Balai Diklat Keagamaan memiliki Urgensi Tugas dalam penyelenggaraan kediklatan yang bertujuan antara lain: 1). Untuk mewujudkan kepemerintahan yang baik diperlukan sumber daya manusia aparatur yang memiliki kompetensi jabatan dalam penyelenggaraan negara dan pembangunan. 2). Untuk menciptakan sumber daya manusia aparatur yang memiliki kompetensi tersebut diperlukan peningkatan mutu profesionalisme, sikap pengabdian dan kesetiaan, semangat persatuan dan kesatuan, serta pengembangan wawasan ASN melalui pendidikan dan pelatihan.

C. KAJIAN TEORI

      Diantara Dasar Hukum Penyelenggaraan Diklat adalah:  1). Undang- Undang No. 43 Tahun 1999 tentang Pokok- Pokok Kepegawaian. 2). Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 3). Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2000  tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil 4). Kepres RI No. 34 tahun 1972 tentang Tanggung Jawab            Fungsional Pendidikan dan Latihan. 5). KMA No. 1 Tahun 2001 yang telah disempurnakan dengan PMA No. 3 tahun 2006  tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Agama 6). KMA No. 1 Tahun 2003 tentang Pedoman Diklat Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Agama.  7). KMA No. 345 tahun 2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan.

      Berdasarkan KMA No. 1 Tahun 2001 ada pengembangan Pusdiklat Pegawai menjadi dua Pusdiklat yaitu Pusdiklat Tenaga Administrasi dan Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan di bawah Badan Litbang dan Diklat. Ini merupakan perubahan esensial untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas Diklat di lingkungan Kementerian. Agama.

      Lembaga Diklat Instansi yang terkait dengan tugas kediklatan PNS meliputi: 1). Lembaga Administrasi Negara (LAN) adalah yang secara fungsional bertanggung jawab atas pengaturan, koordinasi dan penyelengaraan diklat. 2). Satuan Organisasi di lingkungan Kementerian Agama (Pusat dan Daerah). 3). Instansi Pembina Jabatan Fungsional dan Teknis. Lembaga Diklat di lingkungan Kementerian Agama: terdiri: 1). Badan Litbang dan Diklat 2). Pusdiklat Tenaga Administrasi 3). Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan  dan 4). 12 Balai Diklat Keagamaan selaku unit pelaksana teknis.

1. Pengertian Efektivitas Penyelenggaraan Diklat

Pengertian Efektifitas menurut Suwarno Handayaningrat: EFEKTIF adalah TERCAPAINYA SASARAN DAN TUJUAN YANG TELAH DITETAPKAN.  Artinya efektivitas terjadi bila sasaran atau tujuan berhasil sesuai rencana yang     telah ditentukan sebelumnya.Menurut Prokopenko: EFEKTIFITAS adalah DERAJAT PENCAPAIAN TUJUAN DALAM SUATU KEGIATAN BERDASARKAN TUJUAN YANG INGIN DICAPAI DENGAN PERANGKAT YANG TEPAT DAN WAKTU YANG TEPAT PULA. Stoner dan Freeman mengatakan, “Effectivity is doing  right things”. Artinya efektivitas adalah melakukan sesuatu dengan benar dalam hal ini efektivitas menunjuk kepada efektivitas yang dapat menghasilkan sesuatu dengan baik sesuai dengan tujuan yang dikehendaki.

      Sebagai penyelenggara (pengelola) diklat yang efektiv Balai Diklat Keagamaan (BDK) diharapkan mampu menciptakan pelaksanaan diklat yang kondusif agar dapat membawa hasil diklat yang optimal sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Menurut Koontz dan Weihrich mengatakan bahwa efektivitas adalah pencapaian tujuan “Effectiveness is the achievement of ebjectives”. Pencapaian tujuan yang dimaksud adalah pemenuhan kriteria atas suatu produk yang dihasilkan. Efektivitas membandingkan apa yang hendak dicapai dengan apa yang         diperoleh. Semakin berusaha BDK menggunakan potensi yang ada baik   dalam sumber daya manusia maupun sumber daya financial sebagai input organisasi yang dimiliki, yang dikelola dengan proses yang maksimal,  diharapkan mampu  mencapai hasil atau output yang optimal.

             Menyimak paparan tersebut diatas, dapatlah diambil kesimpulan bahwa efektivitas terdiri dari unsur-unsur sasaran yang dituju, metode atau cara yang digunakan, tujuan yang ingin dicapai, dan waktu yang ingin ditentukan. Dengan kata   lain efektivitas adalah keberhasilan suatu kegiatan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai  dengan perangkat yang tepat dan waktu yang tepat pula.

       PP. 101 Tahun 2000 dan KMA No. 1 tahun 2003 Pengertian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) adalah : Penyelenggaraan proses belajar-  mengajar dalam rangka meningkatkan kompetensi Pegawai Negeri Sipil   (PNS) di lingkungan Kementerian Agama yang dilaksanakan sekurang-kurangnya 40 jam pelajaran dengan durasi tiap jam pelajaran adalah 45 menit.

      Dengan demikian yang dimaksud Efektivitas Penyelenggaraan Diklat adalah: Penyelenggaraan proses belajar-mengajar dalam rangka meningkatkan kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Kementerian Agama   yang dilaksanakan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dengan perangkat yang tepat dan waktu yang tepat pula sehingga mampu menciptakan proses diklat yang kondusif atau maksimal untuk memperoleh hasil diklat yang optimal.

      Perangkat yang tepat tersebut diatas, dimaksudkan adalah unsur-unsur penunjang kegiatan (kediklatan) yang dapat mempengaruhi secara langsung akan keberhasilan atau efektivitas suatu kediklatan, seperti: fasilitator (Widyaiswara),  Kurikulum, Sarana Prasarana, Panitia Penyelenggara, Biaya, dan       Peserta.

      Penulisan Makalah ini bermaksud meninjau tentang unsur fasilitator (Widyaiswara) dalam keterlibatannya pada penyelenggaraan diklat khususnya Diklat- diklat yang diselenggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan Semarang, apakah sudah berperan maksimal dalam turut serta mewujudkan suatu penyelenggaraan   diklat yang efektiv di Balai Diklat Keagamaan Semarang baik dalam kuantitatif maupun kualitatifnya?

2. Faktor Penentu Keberhasilan Diklat

      Keberhasilan pencapaian tujuan tersebut sangat tergantung pada konsistensi komitmen pimpinan dan anggota organisasi unit kerja untuk mengelola faktor-faktor   keberhasilan.   Faktor-faktor penentu keberhasilan berfungsi untuk lebih memfokuskan strategi organisasi dalam rangka pelaksanaan misi organisasi secara produktif. Faktor-  faktor penentu keberhasilan dimaksud adalah:

  1. Ketersediaan fasilitator diklat dengan bauran jumlah dan kualifikasi yang memadai.
  2. Ketersediaan program diklat yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan
  3. Ketersediaan bahan/materi diklat yg lengkap dengan sarana audio-visual yg modern.
  4. Adanya kerja sama dengan mitra kerja (networking).
  5. Tersedianya program diklat yang bervariasi, menarik, dan inovatif.
  6. Efektivnya pendayagunaan teknologi informasi yang tersedia sebagai sarana promosi, networking, dan “e-learning”.
  7. Adanya kemampuan manajemen Lembaga Diklat dlm memberikan pelayanan
  8. Widyaiswara  merupakan faktor kunci keberhasilan Diklat. Widyaiswara adalah jabatan fungsional yang memiliki tugas dan fungsi memfasilitasi keberhasilan proses (daur) Diklat. Seorang Widyaiswara tidak hanya dituntut kompeten dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya, tetapi juga harus mampu menunjukkan perilaku yang bersahaja dalam menjaga kehormatan diri dan kehormatan orang lain.             

D. PERAMASALAH

      Belum memadainya widyaiswara tenaga administrasi secara kuantitatif maupun kualitatif yang bertugas di Balai Diklat Keagamaan Semarang menyebabkan penyelenggaraan diklat kurang efektif dan produktif.

E. ANALISA MASALAH

      Guna memperkuat analisa dimaksud berikut penulis lakukan telaah lanjut dari identifikasi masalah yang ada , maka secara umum dapatlah dikatakan bahwa penyelenggaraan diklat belum berjalan efektif sebagaimana yang daharapkan , karena tujuan yang hendak dicapai yaitu terciptanya iklim belajar yang kondusif dan konstruktif sebagai hasil diklat dalam membangun mental aparatur ASN yang mengedepankan nilai-nilai normatif belum tercipta secara optimal.

F. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

      Secara Kuantitatif:

  1. Mengangkat Widyaiswara tenaga aministrasi yang SK pengangkatannya sebagai Widyaiswara tetapi masih bertugas di struktural
  2. Melakukan rekruitmen calon-calon Widyaiswara baru yang berkualitas melalui program penerimaan widyaiswara di Pusdiklat Tenaga Administrasi
  3. Melakukan outsourcing dengan Widyaiswara Pusdiklat Tenaga Administrasi secara proporsional

      Secara Kualitatif:

  1. Mengusulkan TOT materi substantive kediklatan bagi Widyaiswara Tenaga Administrasi kepada Pusdiklat Tenaga Administrasi
  2. Memberi bantuan beasiswa kepada widyaiswara yang menempuh jenjang pendidikan lebih tinggi
  3. Melakukan DDTK tentang Metode, Strategi / Pendekatan, dan Sumber-sumber Pembelajaran serta Teknik-teknik Evaluasi Hasil Belajar
  4. Melakukan DDTK multi media dan penguasaan pengoperasionalan IT.
  5. Menyelenggarakan seminar temu ilmiah secara berkesinambungan yang dilakukan oleh para widyaiswara

G. PEMECAHAN MASALAH

      Menyelenggarakan DDTK tentang  Metode, Strategi/ Pendekatan, Sumber-sumber Pembelajaran (Model-model Pembelajaran) dan Teknik-teknik Evaluasi Hasil Belajar ,Melakukan DDTK multi media dan penguasaan pengoperasionalan IT, dan menyelenggarakan seminar temu ilmiah secara berkala yang dilakukan oleh para widyaiswara

H. KESIMPULAN

      Berdasarkan pembahasan tersebut diatas, dapatlah penulis simpulkan sebagai berikut:

  1. Memadainya ketersediaan Widyaiswara baik secara kuantitatif dan kualitatif dapat menciptakan efektivitas penyelenggaraan diklat bagi peningkatan mutu pengawai di     lingkungan Kementerian Agama pada Balai Diklat Keagamaan Semarang.
  2. Kesadaran bagi para widyaiswara perlu ditimbulkan untuk senantiasa melakukan upaya- upaya pengembangan potensi diri dengan mengikuti TOT, DDTK, WORKSHOP maupun Seminar-seminar Temu Ilmiah agar kompetensi dan profesionalitas tugas widyaiswara   dapat terlaksana secara efektiv dan produktif
  3. Upaya pembinaan dan pelatihan bagi para widyaiswara khususnya dan bagi semua pegawai BDK umumnya perlu dilakukan secara berkala guna mengevaluasi tugas dan tanggungjawab para widyaiswara dalam menjalankan kegiatan kediklatan, agar     perbaikan yang bersifat membangun dapat terus diupayakan dalam rangka mewujudkan performance widyaiswara yang semakin expert

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional, Pusdiklat Pegawai, Sawangan, Januari 2009

Davis, Ivor K. Pengelolaan Belajar. Diterjemahkan oleh Sudarsono Sudiarjo dkk. Jakarta PUAUT.1987

Handayaningrat, Suwarno, Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan Management, Jakarta CV H. Masagung. 1990.

Keputusan Menteri Agama RI Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pedoman Pendidikan dan Latihan Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen Agama, Badan Libang Agama dan Diklat Keagamaan, Jakarta , Tahun 2003

Suriani, Efektivitas Manajemen kelas, Studi Koresional Antara Konsep Diri, Motivasi Berprestasi, Pengetahuan tentang Kompetensi Guru dengan Efektivitas Manajemen kelas (2000) Disertasi, tidak diterbitkan, Jakarta :  2001.

————————————————————————————————————————-

*). Penulis adalah Widyaiswara pada Balai Diklat Keagamaan Semarang